13 Sep 2008

Kehidupan dan pengalaman kerja di Dunia Tambang

Dunia tambang memang masih menjadi candu bagi para pencari kerja. Tidak hanya orang-orang yang berpengetahuan di bidang ilmu kebumian tetapi juga semua cabang ilmu yang terkait di dalam penyelenggaraan tambang. Pada dasarnya dalam penyelenggaraan tambang, pekerjaan itu hanya dibagi menjadi dua, Field worker atau Office worker. Bisa berada di salah satunya atau lintas pekerjaan pun bisa, semua tergantung profesi yang digeluti.

Beberapa waktu lalu aku membaca majalah tambang terbitan Australia AuSIMM Bulletin edisi Januari / February 2008. Dengan gamblang disitu disebutkan bahwa terjadi booming mahasiswa/i di Australia yang mengambil jurusan yang berhubungan dengan pertambangan, baik itu geology, mining, geodety, etc. Yang menarik lagi adalah jumlah peminat wanita pun ikut bertambah. Mungkin begitu pula yang terjadi di Indonesia, di kampusku sendiri (Geology UGM) secara kasatmata terlihat penambahan jumlah peminat baik pria maupun wanita. Tapi aku belum bisa membuktikan ini secara data ilmiah.

Masih berdasarkan majalah tambang tersebut, ada beberapa faktor yang menarik perhatian para mahasiswa/i atau calon pencari kerja ini. Iming-iming gaji yang tinggi, fasilitas yang diberikan perusahaan, banyak peluang kerja, teknologi pertambangan yang berkembang cepat, peduli terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini didukung dengan media yang memberikan informasi berupa iklan perusahaan tambang atau berita-berita yang terkait di dalamnya. Di Indonesia sendiri, seperti diketahui bahwa masih banyak bahan tambang di negara ini yang belum terjamah untuk di eksplorasi atau di eksploitasi. Hal itu juga bisa menjadi daya tarik pencari kerja karena banyaknya peluang di sana. Di luar semua itu, dampak dari adanya perusahaan tambang juga sangat diketahui jelas oleh para mahasiswa/i atau pencari kerja; dampak sosial, dampak lingkungan atau minimnya hubungan sosial dengan dunia luar karena resiko berada di daerah terpencil.

Semua impian dan harapan tersebut bisa berubah ketika sudah masuk ke dalam dunia tambang. Hal yang biasanya menjadi benturan adalah kesulitan untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Seperti yang telah diketahui, bahwa dunia tambang mempunyai jam kerja yang berbeda dengan industri-industri lainnya. Pekerjaan eksplorasi atau eksploitasi dikerjakan dalam 24jam non stop tanpa kompromi dikarenakan efektivitas kerja penggunaan alat berat. Penggunaan alat berat lebih menguntungkan apabila dioperasikan daripada di standby kan. Alhasil, bukan alat yang melayani manusia tapi manusia yang melayani alat. Konsekuensinya adalah jam kerja dan waktu istirahat yang tidak sesuai dengan hari kerja/libur dari kalender nasional, hari kerja/libur disesuaikan sendiri oleh perusahaan tetapi tetap tidak menyimpang dari kaedah perundang-undangan tenaga kerja. Ini berarti, sementara orang lain makan ketupat setelah sholat idul fitri, seorang pekerja tambang harus kembali bekerja.Hal ini sebenarnya sudah diketahui oleh para pencari kerja tetapi akan lebih mudah mengatakan bahwa itu bukan masalah daripada menjalaninya secara langsung.

Tidak ada hak yang tidak dipenuhi, semuanya jelas hitungannya. Ada perhitungan uang lembur apabila kerja di hari libur atau ada hitungannya jumlah hari kerja dalam 1 bulan. Tetapi apakah semua itu bisa menggantikan momen-momen indah dalam hidup yang digantikan dengan hari kerja ? Mungkin inilah sebabnya seorang pekerja tambang mempunyai penghasilan yang lebih besar dari pada bekerja di industri lainnya. Penghasilan inilah yang menggantikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan momen-momen indah yang terlewat dalam hidup.

Apakah masalahnya menjadi terselesaikan dengan membawa keluarga ke lingkungan kerja? Belum tentu. Seperti yang diketahui selama ini bahwa daerah eksplorasi dan eksploitasi biasanya berada di daerah yang belum banyak terjamah oleh manusia alias daerah terpencil yang akses dan fasilitas pendukungnya kurang lengkap. Walaupun sudah dibangun sedimikan rupa oleh perusahaan sehingga semua fasilitas kehidupan nyaris ada dan terpenuhi, tetaplah hanyalah sebuah artificial semata. Lingkungan yang sebenarnya adalah lingkungan industri tambang 24jam nonstop. Seluruh penghuni lingkungan tersebut adalah para pekerja tambang semua, semua yang berkepentingan tinggal di daerah itu adalah untuk bekerja dan bukan untuk hidup membangun atau mendidik sebuah keluarga. Setelah perusahaan tersebut habis kontrak konsensinya atau gulung tikar maka lingkungan tambang tersebut lama-kelamaan akan ditinggalkan dan menjadi kota mati karena tidak ada kepentingan lagi untuk melanjutkan hidup disana. Contoh yang nyata adalah daerah Sangatta Lama. Dulunya adalah kota yang cukup ramai dengan segala fasilitas pendukungnya dibangun oleh Pertamina distrik Sangatta. Setelah Pertamina mulai menekan aktivitas produksinya disana didukung juga dengan hadirnya perusahaan batubara Kaltim Prima Coal yang membangun perkotaan baru Sangatta Baru / Swarga Bara maka Sangatta Lama saat ini menjadi kota yang redup tanpa aktivitas yang berarti dan menjadi daerah terkucil dan terpencil. Masa kejayaan itu telah sirna.

disadur dari source http://iwantolet.wordpress.com/2008/04/25/dunia-tambang/